MAMASA PamosoNews.id Di tengah kondisi persawahan yang mengalami kekurangan air akibat musim kemarau, kreativitas masyarakat kembali menunjukkan perannya dalam mencari solusi sederhana untuk mempertahankan lahan pertanian. Salah satunya dilakukan oleh Zet Mallarangan, salah seorang warga Desa Kanan, Kecamatan Tanduk Kalua, Kabupaten Mamasa, yang membuat kincir air sederhana berbahan bambu dan kayu untuk membantu mengalirkan air dari sungai menuju area persawahan.
Karya tersebut dibuat sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi sawah yang membutuhkan pasokan air. Ketika ketersediaan air untuk persawahan terbatas, Zet Mallarangan berinisiatif memanfaatkan aliran air sungai dengan membuat sebuah kincir yang dirancang menggunakan bahan-bahan sederhana dan mudah diperoleh di lingkungan sekitar.
Kincir air tersebut dibuat menggunakan bambu dan kayu sebagai bahan utama. Dengan memanfaatkan tenaga dari aliran sungai, kincir kemudian digunakan untuk membantu menaikkan serta mengalirkan air dari sungai menuju saluran yang mengarah ke persawahan.
Zet Mallarangan membuat teknologi tepat guna berupa kincir air sederhana yang berfungsi membantu mengangkat air sungai agar dapat dialirkan ke sawah. Kincir tersebut dibuat secara mandiri dengan memanfaatkan bahan lokal, tanpa harus menggunakan peralatan atau teknologi yang rumit.
Kincir air tersebut merupakan hasil karya Zet Mallarangan, salah seorang masyarakat Desa Kanan. Inisiatif tersebut lahir dari kepedulian terhadap kondisi lahan pertanian yang membutuhkan pasokan air.
Pembuatan dan pemanfaatan kincir air tersebut dilakukan di wilayah Desa Kanan, Kecamatan Tanduk Kalua, Kabupaten Mamasa, dengan memanfaatkan sumber air dari sungai yang berada di sekitar wilayah persawahan masyarakat.
Kincir air dibuat karena persawahan masyarakat mengalami kekurangan air. Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi petani, terutama ketika musim kemarau menyebabkan pasokan air ke lahan pertanian berkurang.
Melihat kondisi tersebut, Zet Mallarangan berusaha mencari cara sederhana agar air sungai yang tersedia tetap dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan persawahan. Alih-alih menggunakan mesin atau peralatan yang membutuhkan biaya operasional, ia memanfaatkan tenaga aliran sungai untuk menggerakkan kincir.
Kincir yang dibuat dari bambu dan kayu ditempatkan pada aliran sungai. Ketika air sungai mengalir dan mendorong bagian kincir, roda tersebut bergerak. Gerakan kincir kemudian dimanfaatkan untuk membantu mengangkat air dari sungai dan mengarahkannya ke saluran yang menuju persawahan.
Teknologi sederhana tersebut menjadi salah satu bentuk kearifan dan kreativitas masyarakat dalam memanfaatkan kondisi alam untuk kebutuhan pertanian. Meskipun konstruksinya sederhana, keberadaan kincir tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi persoalan kekurangan air yang dihadapi petani.
Pembuatan kincir air dilakukan saat masyarakat menghadapi kondisi persawahan yang membutuhkan tambahan pasokan air. Inisiatif tersebut menjadi bentuk respons langsung terhadap kebutuhan petani agar lahan persawahan tetap mendapatkan air.
Bagi masyarakat, karya seperti ini tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga menunjukkan pentingnya semangat gotong royong dan kreativitas dalam menghadapi persoalan di lingkungan sekitar.
Di tengah keterbatasan sarana dan kondisi geografis wilayah pedesaan, masyarakat dituntut mampu mencari solusi yang sesuai dengan kondisi setempat. Pemanfaatan bambu dan kayu sebagai bahan kincir menjadi salah satu contoh bahwa teknologi tepat guna dapat dibuat dari bahan sederhana yang tersedia di sekitar.
Karya Zet Mallarangan juga menjadi gambaran bahwa persoalan kekeringan tidak selalu harus dihadapi dengan teknologi mahal. Dengan kreativitas dan kemauan untuk mencoba, sumber air yang tersedia di lingkungan sekitar dapat dimanfaatkan untuk membantu kebutuhan pertanian.
Keberadaan kincir air tersebut diharapkan dapat membantu mengalirkan air sungai menuju sawah sehingga tanaman padi memperoleh pasokan air yang cukup. Hal ini tentunya penting bagi masyarakat yang menggantungkan kehidupan dan perekonomian mereka dari sektor pertanian.
Selain membantu mengatasi kekurangan air, inovasi sederhana tersebut juga berpotensi menjadi inspirasi bagi masyarakat lainnya untuk menciptakan teknologi tepat guna sesuai kebutuhan masing-masing wilayah.
Apa yang dilakukan Zet Mallarangan menunjukkan bahwa inovasi dapat lahir dari kebutuhan dan kepedulian terhadap lingkungan. Dengan memanfaatkan bambu, kayu dan tenaga aliran sungai, sebuah kincir sederhana dapat digunakan untuk membantu mengalirkan air ke persawahan.
Kreativitas masyarakat seperti ini patut mendapat perhatian karena dapat menjadi bagian dari upaya mempertahankan produktivitas pertanian, khususnya ketika petani menghadapi persoalan kekurangan air.
Kincir bambu dan kayu karya Zet Mallarangan bukan sekadar alat sederhana, tetapi menjadi simbol semangat masyarakat Desa Kanan untuk mencari solusi secara mandiri agar sawah tetap mendapatkan air dan aktivitas pertanian dapat terus berjalan.
(Red).

